Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Budaya Tangkul Jambi Harus Dipertahankan

Tangkul

Tangkul merupakan budaya Astronesia, sejak ribuan tahun yang lalu. Hingga kini, di Indonesia, khususnya di Provinsi Jambi, budaya menangkul masih dapat ditemui sepanjang sungai Batanghari dan dipertahankan. Namun, sangat disayangkan budaya menagkul seperti diabaikan, yang seharusnya dipertahankan dengan sektor wisata yang ada.

Untuk diketahui, Sungai batanghari memiliki panjang Sekitar 800 Kilometer (Km), aliran sungai ini meliputi beberapa daerah yang ada di provinsi Jambi yakni, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, kabupaten Batanghari, Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan berakhir di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Sungai Batanghari merupakan daerah aliran sungai yang aliran sungainya terbesar kedua di indonesia. 

Kota Jambi dikenal sebagai Kota sungai yang memiliki keunikan, lantaran sungai Batanghari membelah kota Jambi menjadi dua bagian, yaitu daerah perkembangan Seberang.

Untuk keberadaan sungai Batanghari, sejak zaman dahulu menjadi sandaran sarana transportasi yang efektif untuk menyokong aktivitas perekonomian. Salah satunya, aktivitas yang banyak dikerjakan oleh masyarakat di sepanjang aliran Sungai Batanghari adalah menangkul.

Keanekaragaman spesies ikan yang terdapat di daerah aliran Sungai Batanghari Jambi, tercatat sebanyak 297 spesies, yang di mana 48 spesies di antaranya adalah catatan Baru Jambi dan 45 diantaranya merupakan catatan baru Sumatera.

Sekaligus menunjukkan lebih dari 50% jenis ikan yang ada di Sumatera dapat ditemukan di sepanjang aliran Sungai Batanghari Jambi.

Contohnya di danau Sipin, Kota Jambi, penggunaan tangkul sebagai kearifan dalam menangkap ikan masih bertahan di sekitar. walaupun kearifan itu tampaknya sedang terabaikan. Padahal tangkul warisan budaya yang harus .

tangkul

Menurut pengamat budaya Jambi, Yusuf Martum, mengatakan, tradisi penggunaan tangkul di danau Sipin sebaiknya dilestarikan seiring dengan perkembangan pariwisata, para ahli mempekirakan tradisi menangkap ikan ditu dengan menggunakan tangkul sudah ada sejak migrasi bagsa Austronesia sekitar ribuan tahun yang lalu.

“Kemudain tradisi ini berlanjut ke kebudayaan Melayu Jambi dan bertahan sampai sekarang. Artinya tangkul adalah warisan budaya yang layak dilestarikan,” ucanya, lansir dari baiktv jambi.

Sementara itu, Antropolog, Juan Fransiska, menjelaskan, tangkul itu kalau dalam perspektif budaya tempatnya antropologi itu bisa klasifikasikan sebagai teknologi.

Karena dalam budaya itu setidaknya dibagi 3 bagian, yaitu ide atau gagasan, perilaku dan benda-benda budayanya.

“Yang saya sebut tadi dengan teknologi itu adalah benda-benda budaya yang terkait tangkul, karena ini kultur yang kita bicarakan tangkul itu khas Jambi yang bisa dibilang itu adalah sesuatu yang khas Jambi,” ucapnya.

Ditambah Juan, dengan sendirinya bisa dilihat, bahwa di Jambi itu latar budayanya adalah sungai. Tetapi juga harus lihat sebagai bagian dari landscape sungai jadi bukan hanya bicara airnya, tetapi bicara sekeliling sungainya, juga khazanah budayanya yang nggak lepas dari kontak lingkungannya.

“Jadi manusianya menerjemahkan alam karena hidupnya dekat dengan Sungai, maka dicarilah teknologi gimana yang pas cara mengambil ikan, bukan hanya dengan pancing atau jala tapi ini ada yang bisa dilepas tapi Kemudian beberapa waktu tertentu bisa diambil saat tertentu bisa diambil itu,” tambahnay.

Lebih lanjut Juan mengatakan, jadi berpatok bahwa budaya Jambi, itu budaya Sungai. Jambi sama dengan budaya Melayu adalah budaya sungai.

“Tangkul adalah sesuatu yang perlu dipertahankan dan tetap ada di danau Sipin, sebagai bagian dari paket wisata yang ada kaitannya di sungai, tapi tetap ada entitas-entitas yang Jambi gitu apa yang dipertahankan di situ ya tangkul itu,” tutupnya.

tangkul

Sementara itu, pegawai museum Siginjei, mengungkapkan, sebelum mengambil ikan, biasanya masyarakat di pinggiran sungai akan membuat rumah-rumah kecil.

“Di situlah mereka setelah selesai rumahan kecilnya mereka langsung bisa mengambil ikan di sungai, karena rumah-rumah kecil itu untuk mereka saat istirahat biasanya masyarakat Jambi itu ketika mereka menangkul ikan itu dari pagi sampai sore,” ungkapnya.

Dikatakannya, untuk jenis jala itu biasanya digunakan oleh masyarakat denga cara dilempar dengan menggunakan melempar ke sungai.

“Sepertinya masyarakat melestarikan budaya dahulu sampai kini. Seperti adanya, tidak berubah. Karena mereka dari dulu juga melihat keunikan dari cara masyarakat Jambi menangkap ikan sehingga dilestarikan sampai hari ini,” tutupnya.

Cara Membuat Tangkul

Untuk cara membuat tangkul tidaklah mudah, karena tempat berpijak harus mengapung dan mudah dipindahkan.

Bahan yang diperlukan

  • Kayu atau Bambu
  • Benang jenis apapun untuk mengikat
  • katrol
  • jaring

Post a Comment for "Budaya Tangkul Jambi Harus Dipertahankan"