Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Filsafat Alam "Thales"

Thales merupakan seorang Filsuf Alam yang berasal dari Kota Miletos (Yunani Kuno), yang  kini menjadi Provinsi Aydin, Turki. Thales yang lahir banyak orang bilang pada abad ke 6 Sebelum Masehi (SM) juga disebut bapak Filsafat.

Thales merupakan salah seorang dari orang pandai yang ketujuh, yang terdiri dari Solon, Bias, Pittakos, Chilon, Periandos dan Kleobulos. Nama-nama tersebut adalah orang yang kesohor dalam cerita-cerita Yunani kuno, karena petuahnya. Seperti, “Kenal dirimu” Segalanya berkira-kira” “Tahan amarahmu” dan banyak lagi macamnya.

Menurut buku yang ditulis oleh Muhammad Hatta, dengan judul “Alam Pikiran Yunani” menuliskan, Thales adalah seorang saudagar yang banyak berlayar ke Negeri Mesir. Ia juga seorang ahli politik yang terkenal di Miletos. Dalam pada itu masih ada kesempatan baginya untuk mempelajari ilmu matematik (ilmu pasti) dan astronomi (ilmu bintang). Ada cerita yang mengatakan bahwa Thales mempergunakan kepintarannya itu sebagai ahli nujum. Dengan jalan itu jalan itu ia menjadi kaya raya. Pada suatu waktu dinujumkannya, akan ada gerhana matahari pada bulan itu dan tahun itu. Nujumnya itu kena benar. Ialah gerhana matahari yang terjadi di tahun 585 SM. Hal itu menyatakan, bahwa ia mengetahui ilmu matemaik orang Babylonia yang sangan kesohor  di waktu itu.

Selain itu, ada pula cerita bahwa Thales sangat mengasingkan diri dari pergaulan biasa. Pikirnnya selalu tentang alam semesta. Saa itu dirinya tengah menengok ke atas memandang keindahan lagit. Kemudian tanpa disadarinya, dia pun terjatuh ke dalam lobang. Lalu seorang peremuan tua yang melihatnya terjatuh, menertawakannya dan berkata “ Hai Thales, jalan di langit engkau ketahui, tetapi jalanmu di atas bumi ini tidak kau tahu”.

Thales orang yang berpikir, tetapi tidak pernah meninggalkan pelajaran yang dituliskannya. Filosofinya diajarkannya melalui mulut saja. Kemudian dikembangkan oleh muridnya. Barulah Aristoteles menuliskannya. 

Dalam keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales adalah “Semuanya itu air”. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar (prinsip) segalanya. Semua barang terjadi pada air dan semuanya kembali pada air pula.

Cara berpikir Thales, ia selalu bertanya “Apa asal alam ini? Apa yang menjadi sebab penghabisa segala yang ada?.

Pada saat itu, di mana semua orang percaya terhadap tahayul. Namun Thales tidak, dia berpikir dengan akalnya dan berdasarkan pengalaman. Kemudian dijadikannya untuk menyusun bangun alam. 

Thales yang merupakan orang Pesisir, melihat setiap hari air laut yang mejadi sumber kehidupan. Thales juga seorang saudagar pelayar, saat itu melihat ombak dan dirinya pun takjub. Disimpulkannya air lah yang membuat alam ini, juga menghapuskannya.

Saat itu pun Thales yang hidup di zaman Tahayul dan dongeng, telah memerdekakan akal pikirnnya. “Semuanya itu satu”. Namun, Thales tak lepas dari keyakinannya, yaitu Animisme, lantaran pengalammnya. Saat itu besi berani dan batu api yang digosok sampai panas, lalu menarik barang yang dekat padanya. Ini pandangannya, semuanya berjiwa, baik barang maupun manusia.


loading...

Post a Comment for "Filsafat Alam "Thales""