Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Gunung Emas Ku Tersesat "Dusun Rantau Pandan"

Cerita ini bermula pada awal tahun 2019 lalu. Di saat salah satu teman ku merasakan kegelisahaan yang tak bisa diselesaikannya di tempat yang rendah. Malam itu, aku mendapatkan pesan singkat darinya, yang mengatakan "Daki Gunung Masurai yok?". Saat itu, aku terkejut dan mengatakan "Wai, kalo iyo nian. Payolah! Naek apo kito pegi?" ia pun mengatakan "kito naek motor be".

Diketahui, Gunung Masurai terletak di salah satu Kabupaten Provinsi Jambi. Yaitu, Kabupaten Merangin. Gunung yang tidak aktif itu dengan ketinggian 2.935 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain itu, Gunung Masurai juga masih sangat asri dan jarang dikunjungi pendaki lain. Gunung Masurai mempunyai dua danau yang terbentuk secara alami, yang disebut Danau Kumbang di ketinggian 2.430 mdpl dan Danau Mabuk di ketinggian 2.533 mdpl.

Mitos warga sekitar, Gunung Masurai artinya "Emas yang Terurai" pada masa penjajahan Belanda, Gunung tersebut digali di puncaknya untuk diambil emasnya. Sebelum mengambil emas yang terletak pada puncak gunung masurai, penjajah Belanda banyak mengalami kesurupan dan harus berhadapan dengah hal-hal yang tak wajar. Seperti kesurupan, sakit, bahkan merenggut nyawa.

Saat itu tepat pukul 19.00 WIB, teman ku menjemput di rumah ku. Kemudian, kami berdua bersiap-siap untuk melajukan sepeda motornya. Sebelumnya, aku pamit dulu ke orang tua, untuk meminta restu untuk berangkat.

Dari Jambi, kami berdua melintas melewati daerah Bulian, Mersam, dan Tebo. Tepat pada pukul 00.30 WIB, di Kabupaten Tebo, kami hampir kehabisan minyak, semua rumah warga telah tertup. Seakan tidak peduli lagi dengan keadaan di luar sana.

Saat itu, aku yang mengendrai motor. Dalam hati ku, aku berkata "Wah, di jalan ini cuman kami berdua. Bagaimana jika kami di begal?, Maka tak selamat lah hidup ku." Kemudian temanku berkata, "Wir, sepi nian dak?. Agak kebut lah. Tancap lah gas. Kalo ado nengok minyak ketengan berentilah," ucap reve dengan nada kedinginginan.

Aku langsung memacu sepeda motor itu, dengan kecepatan penuh. Berharap selalu, di depan sana ada kehidupan. Karena di sepanjang jalan kami melintas, yang ada hanya sunyi, hitam, dan suara motor kami.

Tak lama setelah aku memacu motor itu, terlihat di kejauhan, ada cahaya yang remang-remang. Aku menambah kecepatan motor itu. Dengan masih berharap, lampu tersebut menyediakan minyak untuk menyambugkan perjalanan kami.

Ternyata tepat harapan ku. Di sebuah rumah panggung papan tersebut, ada abang-abang, yang terlihat seperti susah tidur, dengan mata memerah, yang sedang berjualan minyak. Aku berhenti di situ, membwli minyak dua liter. Abang tersebut, bertanya kepada kami. "Mau kemano kamu beduo ni?". Repe temanku yang sudah kediginan menjawab. "Kami mau ke Jangkat bang, mau daki gunung. Tapi kami mau singgah dulu ke Bungo. Ke Dusun aku, Rantau Pandan". Kemudian tak lama abang tersebut melihat ku, dengan agak bingung. Dia bertanya, "kau dak kedinginan?". Aku pun menjawab, sambil bergetar "Jelas dingin lah bang". Abang tersebut pun mengatakan, "untung lah kamu dak papo, ini ni sudah tengah malam. Dan aku pun susah tidur. Jadi kamu terselamatkan, kalo aku dak buka, jauh lagi kamu nyari minyak".

Setelah dari toko tersebut, kami langsung melajukan motor dengan kecepat lebih penuh. Sekitar pukul 01.30 WIB, kami tiba di Kabupaten Bungo, kami pun sangat senang. Setelah melewati jalan yang hawanya sedikit berbeda pada waktu itu. Aku berpikir, itu hanya sugesti saja. Namun kawan ku Repe, merasakan hal serupa. Dia pun berkata "hati aku tadi lain nian wir lewat situ". Nah samo pe alhamdulillah lah dak terjadi apo-apo".

Perjalan kami pin masih panjang, karena kami harus melewati beberapa Desa lagi, untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu Rantau Pandan. Jalan yang diempuh untuk sampai di tujuan itu, berbelok-belok. Tikungan yang sangat manja, membuat mata ku mulai mengantuk, ditambah dengan angin malam yang lembut. Tapi aku harus tetap tersadar. Karena rumah Repe sudah menunggu untuk kami rebahan.

Tepat pukul 03.00 WIB, kami tiba di rumah Repe. Tetapi Repe mengatakan, "Kito ngaret nian Wir, biasonyo aku cuman 30 menit dari Bungko ke Dusun ni. Ini kito 01.30 menit jalannyo". Aku pun menjawab, "yo itu lah biaso. Kareno menurut ku, mungkin kito pegi lamo waktuyo. Ditambah faktor malam dan dak tebiaso lewat jalan ini".

Tapi semua itu, terbayarkan. Di rumah Repe, kami beristrirahat dan bisa memanjangkan badan. Karena 8 jam perjalanan yang ditempuh.

Ibu Repe, menyambut baik, sebelum kami tertidur. Ya biasalah, disuguhkan makanan.

Ke esokan harinya, Matahari yang telihat dari balik bukit yang berada di Desa Rantau Pandan, sangat memanjakan. Di dusun tersebut, ramai warga berbondong-bondong pergi ke pasar. Dan aku pun tersadar, rumah Repe yang berada di dusut tersebut, ternyata sebelahnya adalah pasar. Dan di kelilingi dengan Bukit.

Repe pun, mengajak aku untuk pergi mandi ke sungai yang berbatu. Terlihat sepanjang perjalanan, banyak alat-alat berat memasuki hutan.

Aku pun heran, dan bertanya ke Repe. "Pe, kok banyak alat berat masuk ke hutan. Nyari apo tu?. Kata Repe, saat ini di dusunnya tengah ramai orang main batu bara. Karena di dusunya, masih banyak kandugan tanah yang menghasilkan batu bara. "Tu nah Wir, bukit be di keruknyo. Orang banyak nyari batu bara di sini". Ya, aku pun terus mengegas motor, dengan memperhatikan sekeling.

Setelah sampai di tempat tujuan untuk mandi, udara di sana masih sangat segar, dan masih ada sapi kerbau bahkan kotorannya membuat kami harus lebih berhati-hati. Seperti ranjau, jika terpijak maka kita akan hancur. Aku pun selalu berpikir, jika ada sapi dan kerbau di pinggir sungai. Maka sudah dipastikan, tempat tersebut bisa dibilang masih asri tidak banyak polusi, tradisional dan masih mempertahankan budayanya.

Sekitar puluhan meter untuk menuju ke sungai. Setiba di sungai tersebut aku kecewa. Karena air yang aku harapkan jernit itu. Tidak seperti yang aku bayangkan. Airya keruh, walapun banyak batu besar dan air yang deras membuat pendegaran sangat asik.

Aku kecewa, tebakan ku, air yang keruh ini, disebabkan oleh penambang batu bara, yang limbahnya dibuang oleh orang yang tidak bertanggug jawab ke sungai ini. Aku pun bertanya, "Pe, raso aku air di sini dulunyo pasti jernih. Ini disebabkan batu bara itu kan?". Kata Repe, "Iyo wir, dulunyo aek di sini jerniiih nian. Kareno mobil, alat berat, limbahnyo di buang ke sugai ini lah jadi keruh". "Emang orang sini idak marah apo?" Tanya ku, yag perlahan mulai menyelidik. "Kek mano wir, yang main batu bara di sini, orang sini di bantu dengan orang dari luar. Ditambah rumah orang sini sudah ado PDAM. Jadi orang jarang lah ke sungai," jawab Repe, dengan nada kecewa dan menatap sungai di dusunya sudah tak seindah dulu lagi.

Sebelum mandi, dengan telanjang dada, dan dengan gelek ditangan. Yang kami bawa dari Jambi itu, Kami bercerita. Dari oknum yang dibantu warga sekitar untuk menjalankan bisnisnya dan memperkayakan diri sendiri. Tidak pedulinya mereka dengan lingkungan. Tidak pedulinya ciptaan tuhan. Tidak memperhatikan keburukan jangka panjang. Tidak mempedulikan dampak dari bisnis yang dijalaninya. Tidak mengerti perasaan orang yang melangsungkan hidup melalui sungai itu. Sampai dengan cerita bukit, tanah, air dusun Rantau Pandan akan segera binasa. Maka jika sudah binasa, oknum tersebut akan terus mencari mangsa lainnya.

Lanjut, ke babak selanjutnya. Sebelum kami menuju ke Merangin untuk mendaki gunung. Kami menghabiskan waktu di Kabupaten Bungo. Semoga cerita ini terus berlanjut.


loading...

Post a Comment for "Di Gunung Emas Ku Tersesat "Dusun Rantau Pandan""