Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Strategi Anak "STM" Saat Demo Tidak Akan Bisa Dibaca



Para pejabat selalu menuduh! jika anak STM atau Sekolah Teknik Menegah yang membuat ricuh saat berdemo menolak RUU Cipta Kerja atau dikenal Omnibus Law. Padahal tidak, anak STM berdemo lantaran rasa ketidakadilan muncul di mana-mana. Hal ini lah yang menunggangi mereka

Sebagaiam pandangan, wajar saja anak STM bergabung dalam aksi tersebut, lantaran tahun depan mereka akan masuk dunia pekerjaan dan mencicipi RUU yang disahkan oleh DPR RI.

Isu-isu berkembang luas melalui media sosial, RUU yang disahkan itu menyengsarakan rakyat. Semua kalangan menolak. Gelombang perlawanan semakin besar jika RUU tetap disahkan.

Terlepas dari pressure yang mengatakan "Sudah baca belum", penolakan tetap berlanjut lantaran para akademisi sudah banyak yang menyatakan RUU itu menyengsarakan.

Anak STM yang berdemo selalu berada di garda terdepan. Kedatangannya selalu disambut dengan Mahasiswa. Ibarat karpet merah terbentang jika anak STM datang.

Pada Kamis 8 Oktober 2020 di Jambi, anak STM datang dengan bangga untuk ikut bergabung dalam demo.

Semagat muda anak STM selalu ingin terdepan. Suatu waktu dalam perjalanan menuju kantor DPRD Provinsi Jambi, tiba-tiba anak STM berlalari dengan secepatnya. Beruntung Mahasiswa dapat menahannya.

Kemudian Mahasiswa mengimbau untuk jangan rusuh. "Melawan jangan dengan benda tajam jangan dengan batu dan apapun itu jenis kekerasan," tegas seprang koordinator Mahasiswa ke anak STM. 

Anak STM tersebut pun juga mengatakan, "Siap kakak. Kami tidak membawa sajam atau pun batu," jawab anak STM.

Tiba lah di gedung DPRD Provinsi Jambi, orasi-orasi dari sudah ditumpahkan di depan gedung DPRD itu. Namun sayang sekali, bapak pejabat dari DPRD tak satu pun keluar dari dalam gedung itu. 

Kemudian, salah satu anak STM berorasi, menuntut untuk temannya segera dibebaskan dan sepeda motor yang ditahan Polisi. Pasalnya di hari sebelumnya, ratusan anak STM sudah menghujani kantor DPRD Kota Jambi dengan batu, pasca disahkannya RUU Omnibus Law.

"Tolong pak Polisi bebaskan teman kami yang ditahan dan bebas kan motor kami yang ditangkap," ujar anak STM.

Mereka menuntut hanya itu, lantaran solidaritas STM yang begitu kuat. Sebenarnya meraka tau isu yang berkembang dalam pengesahan RUU Omnibus Law, namun untuk menyampaikannya mereka belum cukup tahu.

Polisi pun yang berjaga juga karena tidak ada pilihan lain atas suruhan atasan.

Lama berorasi, DPRD juga tak kunjung datang. Hingga akhirnya massa pun mencoba masuk paksa dengan mendorong polisi. Anak STM yang pada barisan depan pun mendorong paksa.

Namun, tak dipungkiri dari ribuan massa yang mendesak polisi, selalu ada yang melepar dari belakang. Saling lempar pun terjadi, sehingga Polisi pun harus membubarkan massa dengan gas air mata water cannon.

Massa yang tak mau kalah menghujani gedung itu dengan batu di sekitar. 

Perjanjian yang semula mahasiswa dengan anak STM terpaksa dibatalkan dengan sendirinya. Marwah anak STM dalam bertauran kembali.

Anak STM dalam taurawan patut diacungkan jempol. Strategi yang tidak diduga akan muncul dengan sendirinya. Sehingga gas air mata yang ditembakan kembali lagi ke Polisi. Sehingga Polisi harus masuk ke dalam gedung DPRD. Kemudian water cannon yang ditembakan ke massa malah dihujani dengan batu oleh massa.

Mahasiswa yang sempat mundur, melihat anak STM tetap di depan, kembali semagat dan maju ke depan untuk memukul mundur polisi.

Namun, apa daya dengan perlengkapan yang lengkap Polisi berhasil memukul mundur massa. Sehingga kawasan DPRD diblokir oleh massa.

Pada akhirnya, selalu dibilang "Anak STM" pembuat onar, anarkis. Padahal sejatinya, anak STM tidak akan menyerang jika tidak diganggu.

Anak STM sadar, saat ini rakyat sedang sengsara dan ketidakadilan bermunculan, sehingga rasa ketidak nyamanannya timbul untuk menolak segala ketidak adilan.

Sebagian kalangan, memuji anak STM. Karena saat ini anak STM melawan pejabat bukan lagi sekolah.


Post a Comment for "Strategi Anak "STM" Saat Demo Tidak Akan Bisa Dibaca"