Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Perempuan Tataran Sunda yang Memikat Hati Buya Hamka



Di atas kapal, Ketika umur 19 tahun, seorang perempuan dari tataran sunda pernah memikat hati Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Abrulloh).

Saat itu di tahun 1927 Hamka berangkat ke tanah suci menggunakan kapal karimati, di atas kapal menuju Jeddah, Hamka selalu menunggu kehadiran perempuan itu di palka dengan harap-harap cemas.

Seperti dikutip dari buku “Memahami Hamka” yang ditulis Haidar Musyafa, ia menulis seorang perempuan tersebut bernama Kulsum janda berusia 17 tahun yang berangkat haji bersama keluarganya. 

Di buku “Kenang-kenangan hidup”, hamka menceritakan, dia selalu menunggu kedatangan Kulsum di palka dengan harap-harap cemas. Setiap selesai sembahyang maghrib, Hamka selalu membaca Al-Quran sembari menanti kedatangan Kulsum dan tidak akan berhenti mengaji sebelum perempuan yang dinanti kelihatan.

“Agaknya dalam usia demikiana adalah zaman pertumbuhan, lekas kena. Darahnya sudah berdebar-debar saja kalau Kulsum terlambat naik ke atas dek. Namun jika sudah sama-sama berhadapan, dia tampak bodoh dan tidak pandai bercengkerama,” tulis Hamka.

Saat itu, Hamka tak pula mengerti bahasa Sunda dan Kulsum tak paham bahasa Melayu. Di antara mereka ada seorang penerjemah yaitu Sukarta, calon jamaah haji yang berasal dari Sunda.

Hamka tidak memungkiri jika pesona Kulsum sempat memikat hatinya. Saat itu, Sukarta justru menganjurkan Hamka untuk menikahinya. Dada Hamka bergetar pula ketika dirinya diberi jalan demikian oleh Sukarta.

Di masa itu bukan hal aneh jika calon jamaah haji saling mencitai di atas kapal dan hingga akhirnya menikah. Seperti seorang teman perjalanan Hamka yang berasal dari Pekantan Mandailing juga menikah di atas kapal.

Meski sudah diberi jalan oleh Sukarta, dan kedua orangtua Kulsum bersikap baik dan beharap, Hamka tak juga mengambil keputusan. Hingga pada akhirnya kapal yang dinaiki mereka tiba di pelabuhan Jeddah.

Dalam tulisan Hamka, ia mengenang “Kulsum berdiri merenungi lautan, melihat kapal memecah laut, ikan lumba-luba beriring-iring menurutkan laju kapal. Aduhai, alangkah cantiknya janda muda itu kena cahaya panas pagi. Ujung selendang dikibas-kibaskan angin. Wajahnya tenang melihat laut, tetapi di sana terbayang sebuah pengharapan,” tulisnya.

Dalam perjumpaan itu tidak ada kata yang terucap. Keduanya sama-sama diam. “Tetapi penglihatan yang sayu dari kedua belah pihak dapatlah menggambarkan apa gerangan yang menggelora dalam hati masing-masing,” tulis Hamka, di buku Memahami Hamka.

Pada akhirnya Hamka bertemu kembali dengan Sukarta dan mendapatkan kabar bahwa “Kulsum sudah berkawin,” ujar Sukarta, dengan suara mengandung kesedihan.

Saat itu, Hamka mengakui, bergetar juga hatinya mendengar kabar itu.  


Post a Comment for "Kisah Perempuan Tataran Sunda yang Memikat Hati Buya Hamka"